![]() |
| Dokumentasi- jendelaonline.com |
Jendelaonline.com - Jombang – Ribuan warga dari berbagai latar belakang berkumpul di Pendopo Kabupaten Jombang pada Senin (10/3/2025) dini hari untuk mengikuti acara Dialog Kebangsaan dan Sahur Bersama yang digagas oleh Shinta Nuriyah Wahid, istri almarhum Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Acara ini menjadi ajang mempererat kebersamaan dan menumbuhkan nilai-nilai toleransi yang selama ini diperjuangkan oleh Gus Dur.
Dalam sambutannya, Shinta Nuriyah menegaskan bahwa sahur bukan sekadar rutinitas makan sebelum berpuasa, tetapi juga momentum untuk merenungkan kebersamaan, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan. “Puasa harus menjadi ajang transformasi diri, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperkuat empati kepada sesama,” ujarnya.
Sahur keliling yang telah dijalankannya selama 25 tahun ini bertujuan untuk menyentuh berbagai lapisan masyarakat, terutama kaum dhuafa dan kelompok rentan, agar tidak merasa terpinggirkan. Semangat inklusivitas inilah yang diwariskan oleh Gus Dur—bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua, tanpa memandang suku, agama, maupun status sosial.
Kebersamaan Lintas Iman dan Budaya
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh umat Islam, tetapi juga berbagai elemen masyarakat dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Koordinator Gusdurian Jombang, Ema Rahmawati, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan perwujudan nyata dari nilai-nilai keberagaman yang dijunjung tinggi oleh Gus Dur. “Kita ingin menegaskan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, tetapi justru kekayaan yang harus dirawat,” katanya.
Bupati Jombang, Warsubi, yang turut hadir bersama istri, mengapresiasi kehadiran Shinta Nuriyah dan menyebut acara ini sebagai penguat harmoni sosial di tengah keberagaman. “Jombang adalah tanah kelahiran Gus Dur, dan sudah sepatutnya kita meneruskan perjuangan beliau dalam menjaga persaudaraan di negeri ini,” ungkapnya.
Selain sahur bersama, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya, mulai dari musik tradisional Klenteng Gudo, lantunan banjari, puisi kebangsaan, hingga tarian khas Nusantara oleh Sanggar Banon Wilwatikta. Nuansa keberagaman ini semakin menegaskan bahwa seni dan budaya dapat menjadi perekat dalam membangun persatuan.
Menjaga Warisan Gus Dur
Sahur bersama ini bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan pemikiran Gus Dur—yakni keberpihakan pada kemanusiaan, keadilan, dan kebhinekaan. Shinta Nuriyah berharap bahwa tradisi ini dapat terus menginspirasi masyarakat untuk saling menghargai dan memperkuat solidaritas sosial.
“Semangat Ramadan adalah semangat kebersamaan. Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk merajut kembali nilai-nilai persaudaraan dalam kebhinekaan,” pungkasnya.
Dengan semangat yang terus menyala, sahur bersama ini tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan hati dan jiwa dalam memperjuangkan Indonesia yang lebih toleran dan damai—seperti yang selalu diperjuangkan oleh Gus Dur. (Tys)
